Recent Posts

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Juni 2013

Kalkulasi Kedai Kopi




Satu, dua, tiga... Entah.
Hitunganku terhenti di antah berantah.
Dimana pada satu sisinya pernah kau tinggal janji tentang penanti remah roti.
Andai meleburmu semudah menyeduh secangkir kopi,
pasti sudah kusebar rinduku di ujung jalan itu dan merelakanmu hilang.
Hingga hitunganku buntu, lalu terbang.

Satu, dua, tiga... Entah.
Hitunganku terhenti di antah berantah.
Namun tak lekas kubuka mata tuk temukan di mana kau berada.
Hingga tak perlu kususuri sepisepi yang mungkin kau pakai sembunyi.
Meski kau mulai menjelma aroma kopi.
Dan remah roti.
Dan penanti.
Dan kalkulasi detakku sendiri.
Dan... Ah, sudahlah.

Satu, dua, tiga... Entah.
Hitunganku tak lagi mau berhenti di antah berantah.

Banjarsari, Juni 2013
Dien Ihsani
Mahasiswi jurusan matematika yang lebih akrab dengan huruf daripada angka.
Buletin PERDU #8

Ada Cinta di Donat Kentang


Di luar sana sedang hujan deras
Air yang tempias terus mengalir ke bumi yang tadinya kering
Tempat ini adalah tempat yang sama seperti dulu
 Ketika hujan turun dengan deras yang sama pula

Masih segar di ingatan yang sudah mulai dimakan usia
Kisah manis dibalik warung kecil di pinggir jalan kota
Kau dan aku dengan tawa dan keriangan yang sama
Duduk bersanding bak raja dan ratu dalam kisah dongeng

Aroma khas ini pun masih sama
Aku ingat betapa bersemangatnya kau
ketika menghirup lebih dalam aroma manisnya
Caramu merasakan terkstur lembutnya,
membuatku jadi iri pada sang donat

Ketika kini kau tak lagi berada di sisiku
Biarkan donat kentang ini menjadi pengikat di antara kita
Bahwa pernah ada cinta dari sebuah donat kentang


Nurro Tha
Beralamat di Kwayuhan Magelang,
kini berprofesi sebagai Karyawati Apotik.

Buletin PERDU #8

Sejuta Pertanyaan




Ditengah kemodernan pendidikan aku bertanya;
Mengapa masih banyak  anak  tidak sekolah?
Mengapa pendidikan dijadikan ladang bisnis?
Berebut proyek-proyek menggiurkan?

Begitu mahalkah  kejujuran  di dunia pendidikan?
Mengapa nilai-nilai harus dimanipulasi?
Demi sebuah prestasi dan prestise?

Wahai sang pendidik, kemana keteladananmu?
Bukankah engkau guru yang digugu dan ditiru?
Tapi mengapa justru engkau tega mencabuli siswamu?
Mengapa engkau contohkan kekerasan pada mereka?
Dengan menamparnya, memukulnya?

Mengapa engkau wahai pendidik, membakar dirimu sendiri?
Engkau mengatakan, menasehatkan pada anak didikmu tapi engkau sendiri tak melakukannya?
Sesungguhnya suatu kebencian di sisi Tuhannmu bila engkau mengajarkan pada anak didikmu tetapi engkau tidak melaksanakannya.

Wahai sang pendidik, bangkitkan rasamu!
Bangkitkan kejujuranmu! Bangkitkan keteladananmu!
Bangkitkan hatimu! Bangkitkan pendidikan kita!
Dan jawablah pertanyaan-pertanyaan ini!

Istikomah
Pertengahan Mei 2013
 Buletin PEDU #7

Prekuel Kematian




Aku.
Lebih memilih menjadi tuli, dari detak-detak liar dunia
Ketika gemerlap lampu dalam hitam
Bersama tubuh-tubuh bergelayut dalam nada.
Menyilaukan. Menjijikkan.
Aku.
Lebih memilih menjadi buta, dari bayang maya kepalsuan.
Ketika lembar-lembar uang bersenandung angkuh.
Menjadi tirani, meranggas jiwa.
Memunculkan noktah hitam mematikan.
Ketika hijau menjadi kelabu, ketika jaya menjadi runtuh,
dan Negara ini mati.
Semua tampak seperti prekuel kematian
dari film hitam-putih membisu.

Mungkin aku tak melihat, ataupun mendengar.
Tapi lebih memilih memiliki hati.
Bangun. Merasakan. Mendalami.
Dengan naluri titi nada mutlak, merangkai kolase simfoni,
dari nada-nada liar yang acak,
menjadi melodi indah

Bangun.Merasakan.Mendalami.
Negara ini di muka prekuel kematian.
Ketika carut-marut problema, mengekspansi diiringi tawa iblis.
Ketika darah dan nyawa yang dulu diperjuangkan
Untuk satu kata; Merdeka!”
Kini bagaikan tak berharga.
Akankah kau tetap diam?
Bangun. Rasakan. Dalami.

Swastia Verha Setyanikma

Buletin PERDU #7

Pesan Veteran




Kebangkitan apanya?
Jika raga hanya simbolisme kemunafikan jiwa
Jika masa menjadi penjajahnya
Jika kepalsuan menjelma primadona

Kebangkitan apanya?
Yang lumrah kian menjadi masalah
Yang lurus diubahnya menjadiaus
Tirus, terputus, dan terhapus arus

Duh, anakku! Sia-sia darahku!
Menjadikan pertiwi dalam buai bualan
Mengubahnya jadi tempat pengarbida
Muda-mudi yang termakan zaman
Masihkah kau bertahan?

Sadar anakku! Sadarlah!
Pertiwi sungguh sedang terpuruk
Biar saja bungkus ini remuk membusuk
Jangan hatimu yang lapuk

Muntilan, Mei 2013
Usman Al Ansor

Buletin PERDU #7

Kartini Masa Kini



Kau memang bukan Chairil Anwar yang pandai membuat sajak
Kau bukan pula Kahlil Gibran yang pandai merangkai kata cinta
Tapi ketahuilah,
Kau lebih dari itu
Lebih pandai daripada Einstein yang mampu menciptakan rumus
Lebih sederhana daripada Plato yang akhirnya  menciptakan teori tentang negara
Kau pemikir layaknya ilmuan
Kau pelindung layaknya malaikat
Kau  penerang layaknya lentera
Kau tunjukkan aku mana lautan yang pantas aku seberangi
Kau beri aku arah daratan mana yang harus aku lalui
Bukan Antartika
Bukan pula Gurun Sahara
Tapi lautan dan daratan itu adalah surga
Terimakasih Kartiniku
Terimakasih telah membawaku ke dunia
Ketahuilah,
Aku pun ingin jadi Kartini sepertimu
Penunjuk jalan dan penerang arah
                                                              Jadi Sang Pencerah.                                            

02 April 2013
Badingati Istinganah
UIN Su-Ka YK

Buletin PERDU #6

Dalam Buaiannya

Oleh Suci Nurkhasanah


Dalam buaiannya,
Ia ajarkan cinta seluas samudera
Ia ajarkan kasih setinggi Himalaya
Ia ajarkan sayang seluas jagad raya

Dalam buaiannya,
Ia buka cakrawala dunia
Ia lantunkan tembang kehidupan
Ia tanam nilai kebaikan

Pada doa yang mulia
Pada harapan yang tak kenal belia
maka dalam buaiannya
Ia berkata,
”Hari ini, esok, dan kelak kaulah yang terbaik, Nak!”

Sawangan, April 2013

Sajak Nelayan Kehidupan


Sajak Nelayan Kehidupan
Oleh: Ahmad Pujianto


Riwayatku jadi nelayan
Menyusur lautan kehidupan

Ombak bukanlah penghalang, sebab menguatkan!
Gelombang yang menghadang, itulah tantangan!

Kadang kusinggahi juga sungai-sungai
Pernah kuterdampar di tepian pantai

Tetapi sampanku adalah aku, adalah mimpiku
Kudayung sampanku dengan penuh keberanian

Memungut petuah-petuah kehidupan
...

 Dimuat di buletin PERDU edisi #5 

Anak Muda


Anak Muda
Oleh: Ahmad Pujianto


Waktu sudah tiba
Awal mula dihantar bahagia
Belajarlah hidup dari mana saja
Sibak nyata
Cicipi rasa biar peka
Bergelut, gelinting himpit derita
Kerja, menuju cinta-Nya

.   .   .

Hati-hati lingkar setan
Kan menangkapmu jadi endapan
Mendekam di liang kesesatan

“Hey...! Di mana Kamu, Anak Muda?”
; mengawang di jurang-jurang kehidupan
Tanpa sahutan
Tanpa tahu kapan pulang


Buletin PERDU edisi #5